Dalam kehidupan sebuah keluarga yang penuh kasih sayang.
“Ya Allah, separah itukah kondisi Suamiku?” ratapku dalam hati.
“Dinda, kenapa dinda menangis?” teguran Mas Faisal membuyarkan lamunanku.
Aku memang masih setia menemani Mas Faisal yang kini terbaring lemah di rumah sederhana kami.
“Tidak Mas. Cuma mataku rada perih. Mungkin karena kurang istirahat,”
sembari tersenyum aku mencoba menyembunyikan apa yang tengah kupikirkan
kepada Mas Faisal.
“Dinda yakin?”
“Yakin Mas. Mas tidak perlu
khawatir terhadap dinda. Sekarang Mas istirahat. Dinda mau beres-beres
rumah dulu,” kataku meyakinkan Mas Faisal, suamiku.
Ia menatapku
dengan tatapan nanar. Tampak sekali betapa pucatnya wajah Mas Faisal.
Kelihatan ada suatu beban di matanya. Suatu beban yang tak pernah
kulihat pada hari-hari sebelumnya.
“Dinda, kemarilah sebentar.”
Bergegas aku menghampirinya seraya mengusap keringat yang mulai mengucur di kening Mas Faisal.
“Ada apa mas?” sahutku perlahan.
“Dinda dengarlah. Aku mencintai dinda. Menyayangi dinda dengan segenap
rasa hatiku yang paling dalam. Aku ingin hidup Dinda bahagia. Aku tak
ingin Dinda hidup dalam sebuah penderitaan. Dan aku juga tahu Dinda
menyayangiku dengan tulus. Sebagai bentuk rasa sayangku pada Dinda, jika
pada akhirnya nanti aku tidak bisa sembuh seperti sedia kala, aku rela
melepas Dinda dengan ikhlas. Aku rela jika dinda hendak mencari
kebahagiaan bersama yang lain. Aku akan lebih bahagia seandainya nanti
Dinda bisa bahagia walau tidak bersamaku lagi. Aku ungkapkan ini demi
Dinda. Demi bahagia Dinda. Dan.”
Spontan kudekati Mas Faisal.
Kupeluk erat tubuhnya yang lemah itu. Air mataku tumpah tak mampu lagi
kubendung. Betapa tulusnya Mas Faisal menyayangiku. Aku tak mampu
menjawab kata-kata Mas Faisal. Hanya derai air mata dan ungkapan hati
yang mampu aku gumamkan seraya makin memeluk Mas Faisal penuh keharuan.
“Jangan katakan itu lagi Mas. Percayalah, tak semudah itu Dinda akan
berpaling. Dinda tak akan meninggalkan Mas hanya karena keadaan ini.
Dinda sudah siap lahir batin Mas. Dinda akan menjalani sisa hidup ini
hanya bersama Mas. Manis ataupun pahit, akan dengan ikhlas Dinda jalani.
Selalu bersamu Mas. Sepanjang jalan hidup kita berdua.”
Ambil hikmahnya saja ya. Semoga tetap ada manfaat bagi kita semua.
No comments:
Post a Comment