Seorang ibu bernama Wati
pagi ini saya saat mengantar anak2 untuk imunisasi beliu duduk termenung
dan memandangi ketiga anaknya yg beberengan sakit flu dan panas.
Kemudian saat saya dekati untuk berbincang2 akhirnya bercerita tentang kisah hidupnya..
Wati adalah wanita yg terlahir dr keluarga yg kaya.. orang tuanya memiliki beberepa toko besar di kota malang.
Tp karena pernikahan yg tidak di setujui orang tuanya pun tidak menganggap wati dan suaminya..
Setelah 15 tahun pernikahan suaminya terserang strok dan radang otak..
otomatis sang suami lumpuh total dan tidak bisa mencari nafkah.
Anak sulungnya di suruh berhenti sekolah untuk menjaga adik dan bapaknya.
Sang ibu pun bekerja menjadi pembantu rumah tangg.
Kini kondisi suami yg semakin parah dan anak2 nya sakit semua..
Wati mencoba datang ke orang tuanya dan meminta bantuan.. tp dengan
tegas sang ibunda mengatakan... tinggalkan suami mu dan ke empat anak2 mu...
Kamu pulang lah saya akan menafkahi kamu dengan sepenuhnya..
Wati pun hanya bisa menangis bagaimana mungkin dia meninggalkan anak2 dan suaminya..
Kini wati ingin berusaha mencari nafkah dan dengan lugunya wati berharap
dapat bantuan dr abah anton walikota malang ... tp dengan syarat dia
harus mengaku janda dan suaminya meninggal.
Lagi2 wati menolak dan mengatakan... saya mencintai suami saya.. biarlah hidup saya seperti ini, berkumpul bersama dengan anak2 dan suami saya meskipun dia sedang sakit dan kehidupan kami kekurangan.
Seiring berjalannya waktu,akhirnya Wati mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran,meskipun hanya menjadi seorang pencuci piring dan membersihkan peralatan memasak,namun Wati merasa bersyukur dan menjaninya dengan ikhlas.
Karna ketabahan dan keuletan Wati bekerja,pemilik restoran yang dermawan memberikan penghargaan kepada Wati dengan membiayai sekolah ke empat anak2 nya sampai lulus SLTA.
Kini anak pertama dan keduanya sdh bekerja di restoran tersebut dan membantu ekonomi keluarga Wati.
Wati merasa bersyukur karna ketabahan dan jeripayah serta doanya di dengar Tuhan. Dan kehidupan Wati dan anak2nya kini sdh berkecukupan meskipun hidup dengan sederhana.
No comments:
Post a Comment